BaliSpirit Festival 2015 in Media Indonesia " />

Media Coverage

BaliSpirit Festival 2015 in Media Indonesia

Peluh Mengalir Mata Terpejam di Ubud

PURNATI Center of Arts dan Agung Rai Museum of Art meriah di sepanjang hari. Tak kurang 2.000 orang hilir mudik, beraneka warna kulit, saling menyapa dan rangkul di sana, mulai yang masih kinyis-kinyis hingga yang usianya telah matang.

Ubud, Bali, yang ketika namanya baru diucapkan saja membuat benak orang diingatkan pada hijaunya sawah, kehidupan yang berjalan kalem, jauh dari keriuhan, telah mempertemukan mereka.

Pria dan perempuan berpakaian olahraga dengan peluh mengucur itu, sebagian bahkan terbang dari Amerika Serikat (AS) untuk mengikuti Bali Spirit Festival 2015 yang berlokasi di dua tempat menawan di Ubud itu.

Tiket yang harus ditebus, US$150 hingga US$750.

Sepanjang 31 Maret hingga 5 April itu, festival perayaan yoga, tarian dan musik serta berbagai pernak-perniknya digelar.

Ada 70 kelas yoga yang digelar, pengajarnya datang dari India, Amerika Serikat, Australia, Jakarta, dan tentunya Bali.

Di antara segarnya hawa Ubud yang kini juga bergelut dengan isu lingkungan, kultur hingga pengelolaan lahan, ada kelas Janet Stone, pengajar yoga asal San Fransisco, juga Anjasmara dengan Yoga Ala-Ala alias yoga seolah-olah, nama yang dipilih untuk memperpendek jarak publik dengan seni olah tubuh itu.

Dari India, ajaran Hindu itu telah menjadi universal, sukses membuat senyum terkembang, mata terpejam tenang dan tubuh menikmati sensasi damai menenangkan.

Ubud, Bali, serta dunia pun kian terkoneksi.

Digelar untuk kedelapan kalinya, Bali Spirit Festival, juga telah mempertemukan idealisme dengan kepentingan ekonomi sebagai syarat agar gagasan itu berkelanjutan.

Semoga, juga bisa menjadi medium buat mengaplikasikan tingkatan yoga paling utama, samadhi atau penyerapan ke dalam yang kemudian menyebarkan kedamaian pada sekitar.

--- Original article can be found in here


Follow Us
Subscribe to RSS Feed
Archive